Citraan Pengecapan: Ikan Sarden Rizki Amir

Catatan Pengantar:

CITRAAN yang paling kerap dipakai dalam puisi Indonesia modern adalah visual dan suara. Padahal ada tujuh citraan utama dalam puisi: Selain 1. citraan visual (penglihatan), 2. citraan auditori (suara); ada juga 3. citraan taktil (rabaan/sentuhan), 5. citraan gustatori (pengecapan), 5. citraan olfaktori (penciuman), 6. Citraan organik (emosi internal), 7. Citraan kinestetik (gerak, energi). CITRAAN yang paling kerap dipakai dalam puisi Indonesia modern adalah visual dan suara.

Rizki Amir menulis puisi tentang makanan. Saya berharap dia mengambil kesempatan besar untuk membangun citraan gustatori (pengecapan), atau olfakotori (penciuman). Pada beberapa sajaknya saya menikmati itu. Saya bisa membayangkan uap jahe, atau daun bawang. Atau sayup-sayup rebusan santan. Bau kerang atau saus tiram.

Sayangnya dia tak memanfaatkan kesempatan untuk menjadi unik dengan menggarap citraan itu, apa yang sangat jarang dimanfaatkan dalam puisi Indonesia. Dia punya kejelian itu. Dia tampaknya tahu benar dunia kuliner dan gastronomi.

Saya tidak bicara soal kekurangan sajak Rizki Amir, saya hanya berharap ia melakukan sesuatu yang ia mampu melakukaknnya. Selebihnya saya menikmati sajak-sajaknya. Temanya, tidak baru, sudah mulai banyak yang menggarap makanan sebagai tema atau jalan pengucapan. Tapi, sajaknya gurih. Seperti ikan sarden yang tak pernah gagal membangkitkan selera makan – ha/LS

Sarden yang Ringan

1.
telah kusiapkan kaleng kosong untuk kita tempati. meski air hujan bergegasan dan tawa-tangis silih-ganti. lekuk dan lekuk. memang, anakku, pelukan kerap tak sepadan. seperti jumlah burai di juni ini. juni yang paling sulit kita nikmati. di subuh hari, anakku, ketika setiap orang menyimpan ikan-ikan dalam tas belanja, diam-diam aku mengumpulkan sisa daun bawang dan menyusunnya jadi migrasi di balik tutup panci. di antara mimpi dan unggun api: jahe kumemarkan, bumbu kuhaluskan.

2.
seandainya aku bisa memilih maka hanya kupilih satu ikan yang ringan. ikan dengan daging lembut sepanjang lengan. yang akan kulumuri jeruk nipis dan garam, kupotong jadi enam bagian. sebab, di timbangan sebelah sana, nasib seperti perjalanan yang tak tercatat. tapi aku tak mampu mengudar dapur yang gemetar. bukan, itu bukan batas kaki meja yang sederhana. lalu lapar berhenti sejenak. kemudian kamu menjawil dan menanya: “perutku seperti laut, bu. tapi mengapa tidak ada ikannya?”

2018

Setengah Sendok Makan

1.

kumpulan resep lesap di keningmu ketika kelapa menyimpan bau tanah india. bagai pinang dibelah dua, kamu ubah gulai kurma serupa makanan siap sedia. “makanlah. sebelum pohon musim berubah warna,” katamu. tapi di sini, orang-orang tak mau membaca kemurungan yang lebih tinggi daripada urat nadi. ada dua kemungkinan: mereka mengeja menu berbeda atau mereka cium album keluarga.

2.
di belanga, santan dan jintan adalah jalan bandar. tapi kenyang adalah hal yang tidak direncanakan. kamu adalah rempah dari pasar yang panjang dan pagi yang menghabiskan kecemasan akhir pekan.

tak ada tepukan. di meja itu seseorang mendorong setengah sendok makan hingga jauhari membuka tudung saji. dan menemukan kekasihnya. setelah itu cerita tentang kota tua dan cinta yang merana.

2018


Indeks Penyambung Lidah

aku beri nama tiap hidangan yang bersantan dari balik bilik dapur ini dengan namamu. nama yang mengunyah sekaligus menyambung lidah. supaya nyala doa yang menghuni belanga tetap jadi tanda tanya. dan setelah puluhan malam, setelah ucapan yang gemetaran, yang lekat di tiap suapan, bukan kecemasan dalam demam semata. di meja makan, kamu pernah berkata padaku: “setelah kuserahkan senyum salam perpisahan, maka semua kangen di hari sabtu akan melambaikan tangan kepadamu.”

tapi, ternyata (setelah senyum salam perpisahan), yang berjajaran malah pilihan jajan dan makanan dari cinta yang jauh ditinggalkan. apakah batasan dari perjalanan dan guyonan-guyonan jika bukan sepiring kenangan. dan hampir tidak ada seukuran dada yang kamu diamkan di tiap suap-sesapnya.

2019


Kerang Bakar Jimbaran

di antara satu batang serai dan satu sendok garam, rasa lokal membuat kesetiaan mendapatkan lapar dan seafood yang menolak bergerak. dan alih-alih membantu menu utama juru masak ternama, kita hanya sisihkan kerang hijau dari keranjang. tetapi kerang-kerang itu tahu, tiap olesan bumbu adalah perjalanan lain ke lautan yang berbuih dan harum.

memang, di sana tak ada lagi saus tomat botolan. hanya bau madu dan sisa kisah petualangan. asap berubah jadi bayang yang membentang di antara tangis seorang perempuan dan sebuah keputusan

untuk pulang. sebab beberapa belas detik setelah disiram saus tiram, bakaran kerang dari jimbaran siap sajikan di hulu segala muara. karena itu, kita lambaikan tangan ke arah matahari terbenam.

2018

Iklan