Ng. Lilis Suryani: Maut yang Mengajak Merokok di Beranda

Catatan Pengantar: Tirai masuk ke dunia puisi itu barangkali berupa selaput tipis saja tapi kuat. Ketika seseorang berhasil membawa bahasanya masuk menembus selaput tipis itu, kita melihatnya begitu dekat, seakan tak berjarak. Akrab. Tapi, begitu kita sendiri yang mencoba kita akan tahu bahwa usaha untuk menembus batas itu bukan perkara yang mudah.

Sajak-sajak Ng. (diucapkan Neng) Lilis Suryani, lahir di Cianjur, 10 Juli 1996, yang kali ini kita tampilkan membawa situasi semacam itu. Singkatnya ia sudah menemukan puisi. Ia menyair dengan riang, tak terasa ada ketegangan, tapi ia menyair dengan intens. Proses yang seperti itulah yang bisa menghasilkan larik: sore menggiring aroma awal musim kemarau. Imaji yang hidup, bahkan liar. Juga, seperti menanam benalu di keningku, simile yang membangkitkan berbagai penafsiran.

Kepadanya, perlu kita ucapkan selamat. Selamat datang di peta kepenyairan Indonesia. Keriangan yang sublim, yang tetap menawarkan permenungan perlu dipertahankan. Bait seperti ini, Ada sisa gerimis di kaca jendela / Ada maut yang dekat / Mengajak menghisap rokok di beranda, sudah lama tak terbaca, setelah dulu Subagio Sastrowardoyo mempertegaskan dalam puisinya.

Tambahan: penyair kita ini sekarang kuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Pernah aktif di Komunitas Sastra Cianjur dan Sanggar Puisi Lincak. Suka memasak, menulis, dan mengagumi Sting. ha/LS

SATU DAN LAIN HAL

Sore menggiring aroma awal musim kemarau
Sementara hatiku menginginkan sebagian hujan
Sebagian lagi membentuk kubangan kecil
Tanpa dasar untuk dipijak di tengah jalan bebatuan

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan
Seperti matahari seharian membawa memar
Melenggang pulang sendiri

Semua itu seperti kepastian yang baik
Namun, seringkali menghilang tanpa berbalik
Tidak ada kekuatan yang cukup
Setelah segalanya tumpah dan lenyap

Kehilangan selalu tiba-tiba
Ada yang pulang tanpa pamit menjadi biasa
Ada yang diam-diam kita lupakan tanpa terasa
Dan banyak hal dari dasar mimpi kita
Jadi lenyap, tercerabut, juga nista

Ada sisa gerimis di kaca jendela
Ada maut yang dekat
Mengajak menghisap rokok di beranda

Yogyakarta, Juli 2019

MENGUPAS

(1)
Aku mengupas sebutir telur
Berharap kau pulang
Sebab bagiku, berbagi denganmu
Seperti menanam benalu di keningku
Enggan yang tidak berkepanjangan

Sambil mengupas ingatan
Kata-kataku terus mengantuk
Kumulai doa hingga ranum
Agar kulit yang terbuka
Dan kenangan sepanjang malam
Tidak cepat jadi busuk

“Bukankah sepi, urusan masing-masing”

(2)
Kurangkai hidup serapi mungkin
Harapan terus kureka
Hingga rambutku terus memanjang
Telur tuntas kukupas berpuluh keranjang
Namun yang lagi-lagi datang
Hanya kata-katamu yang lengket di kuku

“Tabah, juga perkara kekuatan masing-masing.”

Yogyakarta, Juli 2019

KALIMAT LAPAR BAHASA REMPAH

I
Di balik rak yang gelap ini
Piring dan gelas mematung menanti isi
Tungku redup malu-malu
Api tak cukup menyala dari dada

Ah, singkong yang tega
Tak satupun mencuat mengganjal perut
Ah, tanaman sayur yang sakit
Mengapa manja menunggu hujan tiba
Ah, tudung yang murung
Dengan lagu kosong apa lagi
Kutimang anak-anakku
Dan tanah air bagi kami
Ialah tempat menahan lapar

II
Suatu hari wajahmu riang mengiris bawang
Biji ketubar berlari-lari
Lada yang nakal berseteru dengan cabai
Semoga kau senantiasa sabar
Menerjemahkan aroma ke rasa lapar

Gula menggoda garam yang diam
Kunyit yang kau kupas
Menyususp ke serat serai yang tegas
Meski tak memahami bahasa rempah
Kau tahu bahwa bumbu
Tidak meresap ke batu-batu

Yogyakarta, 2018-2019

MEKAR LALU LAYU

Rupa bunga disibak angin
Dalam rerumputan
Yang luput diterkam dingin
Hingga bunga berubah warna
Sukar dipetik enggan ditanam

Pikiran kita tanaman liar
Tubuh kita bebunga mekar
Kemudian dengarlah isyarat
Kita sama tahu kapan harus layu

2016

AGAMA PUISI

Gincu luntur ke baju
Dandanan menguap dari badan
Surga yang katanya di kanan
Melarikan diri ke bagian kiri

Jika agamaku adalah puisi
Maka selamatlah segala luka
Yang hendak melarikan diri

Iklan