Ayolah Daffa: Mendakilah Lagi!

Catatan Pengantar: Muhammad Daffa pernah kita muat sajaknya di Lahir Sajak. Ia tergolong penyair muda yang produktif. Gairahnya melahirkan sajak tinggi sekali. Dua buku sudah ia terbitkan. Bakatnya mendukung semangatnya itu.

Tampaknnya ia sama sekali ta kesulitan mengolah lintasan ilham atau momen puitik menjadi puisi. Puisi-puisi beres. Tak bermasalah. Tapi, itulah masalahnya. Puisi-puisi terlalu beres. Ia bicara soal sepi, kopi, pencarin diri. Tema-tema berulang tanpa terlihat upaya untuk keluar dalam jalan aman yang selama ini ia tempuh.

Ia seperti yakin telah sampai pada satu tingkat dan menikmati pencapaian itu. Ia bisa diterkam bahaya. Ia bisa terjebak kenyamanan. Ia harus keluar dari tingkat itu. Ia harus mendaki laki. Membuka jalur pendakian baru untuk sampai pada pencapaian lain. Puncak puisi itu tak ada batasnya. Ayolah, Daffa, mendakilah lagi. ha/LS

AMSAL KOPI

matamu utuh
terjerang malam
kata luruh
menjamu tubuh
bunga-bunga luka

kurawat tekun kehilangan
agar setiap yang pergi
merawat jalan sepi
seluas amsal kopi

serupa jiwa-jiwa melayang
membentuk bayang
tak kenal hilir dan muara

banjarbaru, juli 2019

ANASIR PEJALAN BUTA

aku pejalan buta yang menempuh subuh ke subuh, hening mengayuh derak daun-daun, langit
yang rubuh
tergesa menangkapku, sebelum gugur, sebelum gugur imaji yang berlompatan menyusun tualang
sendirian
baca aku dalam puisi-puisimu, kata-kata yang tak punya wajah, berdalih mimpi, mencari-cari
lembar peristiwa
berkabar kematian kota-kota, dibunuh mata penyair, mengasah keajaiban-keajaiban, kurindukan
pulang
kurindukan pulang sebagai ilustrasi rindu mengabut dalam doamu

banjarbaru, juli 2019

SUBUH HENING MENGULANG

adakah subuhmu hening mengulang, frasa kematian, jalan yang membelukar sunyi, kembali
sunyi
selain puisi yang luput dicatat, kembang-kembang malam, gugur kelopaknya satu-satu, aku ingin
penyair
yang tak menenun firasat! katamu. hari selalu punya dalih, melepas amsal cahaya, menelikung
batas mimpi
dirayu mata kopi, menjejal ajal sebelum limbung, sementara hidup terjerang makna angin,
datang-pergi, mengulang waktu yang retak
kita tak mencari. masih hening puisi. adakah subuhmu mencari frasa terakhir, lagu pengantar
tidur yang panjang, sebelum gugur ajal
selain puisi, kembang-kembang malam, gugur kelopaknya satu-satu

banjarbaru, juli 2019

KOPI PECINTA MALAM

malammu tak menyahut
kunang-kunang bernyanyi
laut segala duka

bulan jatuh
berdenting
menggusur hitam riak
arus kopimu
menyeduh air mata

izinkan aku gugur

mencari tamsil kehangatan
tak berjeda
mencintai malam
sekudus-kudus mata
sekhusyuk-khusyuk raga

banjarbaru, juli 2019

MENCARI SUNYI

sunyi kucari
sepasang matanya mengerkah jalang
menimba kuburan rima
dalam kepala para penyair
tertikam makna yang sungsang
luput ditulis lembar-lembar surat kabar

banjarbaru, juli 2019

Iklan