Ajiti Puspo Utomo: Apa yang Cirebon pada Sajakmu?

Catatan Pengantar: Ajiti Puspo Utomo (lahir 27 Mei 2000) ini punya bekal untuk menjadi penyair yang kuat. Ia punya kejelian menangkap hal-hal kecil (Di Tepian Buku Ini adalah Kenangan). Ia tekun mengolah imaji meskipun tak selalu berhasil. Ada yang berhenti pada klise (Di Malam Lailatul Qadar, Kaleidoskop), ada yang menjadi sangat segar (Menjadi Diam kepada Sepi, dan terutama pada Zamzam 1).

Aji kini tinggal di Desa Kedawung Blok Cantilan, RT 09, RW 04, Kec. Kedawung, Kab. Cirebon. Kuliah di IAI Bunga Bangsa Cirebon. Saya selalu percaya ada banyak hal di sekitar tempat tinggal kita yang berharga untuk diangkat menjadi puisi, apa yang pasti tak dilihat oleh orang lain yang tak tinggal di kota kita. Kepada Aji, bisa kita ajukan pertanyaan: apa yang Cirebon pada sajakmu?

Penyair punya “tugas” untuk menjadi perwakilan mata orang banyak, melihat, menangkap, dan mengolah imaji-imaji lokal itu menjadi sesuatu yang berharga dalam puisi yang ia tulis. Sementara ia mengangkat khazanah imaji lokal, puisinya harus mencapai juga nilai-nilai universal. Jika mau gagah-gagahan, jargon lama globalisasi berlaku di sini: act local, think global.

Di Tepian Buku Ini adalah Kenangan

Bekas tangan yang tertinggal pada kertas ini
Adalah sebuah perpisahan; perumpamaan tiada ujung
Angin yang menggaung keras kepenjuru bumi
Dan butiran pasir yang kau tumpahkan paragraf demi paragraf

Apakah sama halnya ketika yang lain berdoa
Dalam balutan amin, kau berubah menjadi hening yang dingin
Meninggalkan tinta pada tepi buku ini
Tanpa mengapa dan kenapa?

Namun barangkali sudah, buku ini kau baca
Aku hanya ingin mengenang
Bagaimana puisi ditulis dengan adanya kerinduan yang mendalam

2019

Kaleidoskop

Selama hidup adalah menghirup udara
Adalah selama kita memintal setiap kenangan
Yang sudah berserak di atas ranjang kita

Dan selama itulah detik dan jam,
Hari dan bulan juga tahun
Akan selalu menjadi teman kematian

Yang kita perlukan hanyalah pelukan
Pada setiap inci tubuh kita yang terburai
Dalam kerinduan masing-masing

2019

Menjadi Diam Kepada Sepi

Hitunglah setiap percikan kenangan yang hangat
Pada tubuhku, pada senyumku
Bagai angin yang hilir mudik mencari gua batu
Dan hujan yang mencari kekeringan di ujung sana
Lautan keringatmu menjadi jalan pulang
Bagi kata-kataku

Namun tidak lagi sekarang
Tahun rindu sudah bernyanyi, sudah berdendang
Lagu yang mampu membuatmu jauh dari pelukanku
Puasalah aku bersama sepi yang menggunung
Kau hilang dari penaku
Kembali aku berdiam dan berkhalwat pada bukit kenangan

2019

Di Malam Lailatul Qadar

Daripada kau
Kata-kataku untukNya lebih baik dari seribu bulan

2019


Zamzam 1

Air yang baik
Takkan pernah tumpah
Pada cekung matamu
Yang melimpah

2019

Iklan