Mufti Perdana Avicena: Antara Memperjelas dan Menyamarkan

Catatan Pengantar: Paradoks citraan dalam puisi adalah ia dipakai untuk menyamarkan tapi tidak menghilangkan. Ia tidak mengatakan langsung tak menarik perhatian dengan semacam sindiran-sindiran yang menyaran. Ia menutupi maksud tapi ada sebagian dari isi yang dimaksudkan itu tersibak yang justu membuat penasaran, yang menarik perhatian. Nyaris semua perangkat puisi bekerja seperti itu. Metafora misalnya. Itu alat ucap, strategi teks, yang menyamarkan tapi sekaligus juga memperjelas. Jika tidak maka mesin puisi tak berjalan dengan lancar. Apa artinya paku payung yang menatap pada tembok? Apa yang hendak disamarkan dengan bait itu? Apa yang ingin diperjelas dengan diri yang luluh ditimang lembayung yang menggendongku? Puisi bukan sekadar beraneh-aneh dengan bahasa, bukan cuma berindah-indah dengan ucapan. Puisi itu memaksimalkan tenaga bahasa. Puisi itu bermain-main sekaligus memuliakan makna. Sajak-sajak Mufti Perdana Avicena, lahir 9 April 1999, kini menuntut ilmu di Universiti Malaysia, sedikit bermasalah dalam hal itu. Saya bisa terpesona dengan nilai-nilai hidup yang ingin ia sampaikan lewat puisinya, tapi pesona itu redup sebab caranya menyampaikan membosankan. Ia sudah mencari tapi belum menemukan sesuatu yang benar-benar baru dan segar. – ha/LS

Sajak Sembunyi

Menatap paku payung yang menancap pada tembok.
Diriku luluh ditimang lembayung yang menggendongku
dari balik jendela besi berkarat.
Kau dalam air mataku, mengalir dari pangkal tebing kelopak mata asmara.
Engkau mendayung di atas kubangan air,
bergolak di dalam lubang yang menampungnya.
Pikiranku jungkir balik mendengar suaramu yang muncul entah darimana,
yang muncul setiap saat, yang kurindukan raganya.
Lupakah kau denganku kekasihku?
Lupakah kau dengan sejarah kita kekasihku?
Lupakah kau dengan angan-angan kita kekasihku?
Kau bersembunyi seperti plankton di antara alga-alga hijau.
Bersembunyi di balik waktu, di balik ruang.
Kau adalah sembunyi.
Lalu bagaimana dapat kutemukan dirimu,
Jika sembunyimu adalah hadirmu yang paling utuh?

Kuala Lumpur, 23 April 2019

Getaran Tali Alam

Aku mati ketika kau menghilang.
Kugantung dirimu yang hilang di atas pigura dirimu yang hilang yang kugantung di atas pigura dirimu yang hilang yang kugantung di atas pigura dirimu yang hilang yang kugantung di atas pigura dirimu yang hilang…
Cintamu yang hilang tak terhingga berjejer di samping cintaku yang hanya tiga belas buah.
Tatapan itu yang kunanti namun curiga ingin menghindari.
Bersama gita kau hadir mendaki tangga kalbu dari luar tubuhku yang berjalan gontai mencari asamu yang entah ingin sendiri atau sedang menyepi.
Asmamu menggema di relung hatiku yang terbentuk dari batuan-batuan sedimen yang terdiri dari serpihan-serpihan kasihmu yang berserakan karena kusia-siakan.
Penyesalanku tak berujung. Sesalku tak kunjung. Aku ingin kau menjengukku di atas ombak yang pecah menabrak karang-karang laut yang telah memutih. Seperti rambutku yang telah putih karena waktu ternyata mencintai hitam.
Terpasung diriku di antara ketidaktahuanku yang penuh bingung. Tak makan dan minum karena tubuhku dipenuhi air ombak yang asin penuh garam dan lumut. Hidup tak lagi semarak seperti ketika kedua orangtuaku masih hadir bersamaku, menimangku dalam cintanya yang murni. Hidup adalah waktu yang mencengkeram leher ringkihku.
Gadjah Mada bersumpah, aku menyumpah.

Kuala Lumpur, 19 April 2019

Renungan di Tepi Sumur

Menatap sumur gelap dengan dinding melingkar
Pandanganku ditarik ke dalam utuhnya ruang kehampaan
      hingga bunyi percikan air memantul di antara dinding sumur
      hingga aku menyadari waktu yang berjalan pelan

Sukmaku haru mengingat senja yang ingin mendekap kaki langit
menggugurkan ingatan hari tadi yang tersisih basi
Waktu membelai lembut mengasihani mereka
yang lelah dipasung oleh tanggung jawab dan ekspektasi
Dan hidup sedang berbincang dengan maut
tentang siapa yang akan menjadi miliknya

Kulumpuhkan indra penguasa persepsi
Melebur segala esensi sensasi
     menuju Dzat yang takterbatas
         pada keabadian diriku melaras

Tinggarjaya, 5 Juni 2019

Tandu

Aku menemukan diriku tengah mengulik kerangka tanyamu.
Melihatnya telah usang dan penuh debu,
nihil akan tukang dan perlu disapu.
Aku bersikeras menelaah melalui celah sempit
di pintu teras tubuhmu yang terbelah lelah.
Berguru pada sang suhu tak membuatku penuh ilmu kalbu.
Membacamu saja aku malu apalagi mencium pipimu yang rimbun dan perdu.
Sempat aku bertanya padamu,
“apakah rindu akan bertamu?”
Kau hanya mengangguk penuh setuju,
lalu minggat diangkat tandu.

Kuala Lumpur, 25 Maret 2019

Iklan