Andika Pratama: Tantangan Menuntaskan Proses Distilasi Puisi

Catatan Pengantar:

Ada benarnya bila dikatakan bahwa menulis puisi adalah ikhtiar memadatkan ucapan dan memperdalam perasaan. Seperti anggur, yang jika tak difermentasi akan segera membusuk, tapi anggur yang jadi menjadi “abadi”, makin berusia makin bagus kualitasnya. Atau seperti menyuling atsiri. Mungkin hanya satu atau dua persen saja dari bahan tumbuhan yang terdistilasi menjadi biang minyak wangi.

Hidup adalah bahan bagi penyair untuk difermentasi atau didistilasi menjadi puisi. Pastikan bahwa proses itu berlangsung tuntas. Proses ini tidak bisa serta-merta, perlu benar menjalaninya dengan sabar. Andika Pratama (lahir 11 April 2000), dari Samarinda mengirim puisi yang memperlihatkan dia punya pengalaman hidup yang kaya untuk diolah menjadi puisi. Ia memberi perhatian yang luas pada hal-hal di dalam dirinya dan di luar dirinya. Juga hal-hal kecil seperti kapan ia mulai menyukai puisi. Kejelian dan ketekunan itu modal penting untuk menjadi penyair yang kuat.

Kepadanya bisa ditanyakan kenapa dia tak memanfaatkan Samarinda sebagai sumber imajinasi, metafora, dan imaji puisi-puisinya? Sungai Mahakam? Soto Banjar? Nasi kuning? Mal Lembuswana? Apa saja yang belum dimanfaatkan bahkan oleh penyair lain yang tinggal di Samarinda. Upaya itu perlu sedikit kerja keras tambahan. Tapi upaya yang tak instan pasti akan menghasilkan puisi yang tidak generik juga. Angin, pohon, November, dan pelacur di Samarinda pasti bisa dihadirkan dengan cara yang berbeda daru tempat dan kota lain. Puisi memberi tempat dan menghargai keberbedaan itu- ha/LS

OASIS

Air mukamu
Ada sesuatu di situ
Yang meneduhkan,
Oasis di padang tandus,
Pemandangan indah yang tak mudah
Terhapus

Izinkan aku menetap di benakmu
Menikmati dan menyaksikan
Bagaimana seluruh sel di tubuhmu itu
Bekerja tanpa haus

NOVEMBER

Kita jatuh hati di bulan November
Ketika matahari menyingsing di pagi dingin
Ditutupi awan abu-abu dan gerimis
Sunyi-sunyi yang berdesakan
Perlahan-lahan diminta pergi

ANGIN DAN POHON

Pohon-pohon itu tak tahu alasan
Mengapa angin yang sayup-sayup saling berbisik
Gemar menanggalkan daun dari tubuhnya
Dan meniupnya ke sana ke sini

Daun pun tak tahu
Ke mana angin yang kencang dan berisik
Meniupnya berkelana
Entah ke timur ke arah matahari pagi menyapa
Entah ke barat menyusul senja

Angin tak juga tahu
Ia hanya jalankan tugasnya saja
Meniup apa yang mesti tanggal
Tanpa tahu apa alasannya
Tanpa tahu ke mana tujuannya

BALADA TENTANG AYAH

Ayah tak pernah pulang
Ia berkelana ke mana-mana
Matahari suka menjilati kulitnya
Hingga berubah menjadi warna coklat keemasan

Ia gigih mencari makna hidup
Telapak kakinya telah mengeras
Diseretnya melalui aspal panas
Menapaki kerikil tajam tak berkesudahan

Darahnya tercecer
Dari langkah kakinya yang terseok
Ditemani keringat di keningnya
Dan debu jalan yang dihirupnya

Ketika ia pulang ke rumah, ia hanya tersenyum
Penuh luka, dengan sejuta hasil panen tak seberapa
Ia menangis karena takut rumahnya tak menerima panennya
Tetapi rumah tersenyum, memeluk dan mengobati sekujur tubuhnya

KELAM MALAM

Untuk Para Pelacur Ibu Kota

Lontar-lontar
Malam menipu
Siang dengan berkata
Langit adalah biru
Dan bukan hitam

Para pelacur sibuk
Menutupi kawah sana-sini
Dengan tebal bedak dan
Batang lipstik murahan

Bintang selaku alarm
Mengisyaratkan pameran
Menjaja diri telah dibuka
Untuk khalayak pria

Keluarga mana tahu
Di dalam gelap
Di kelam malam
Seperti apa dunia pelacuran
Di luar sana

Garis miskin, dan

Brosur kehidupan glamor
Adalah tuhan maha esa
Yang disembah dengan kelamin

Samarinda, 21 Juni 2019

Iklan