Menulis Puisi: Mengenali Puisi

Ichsan Nurseha

Menulis puisi adalah kesempatan untuk mengenal apa itu puisi. Ada memang orang yang berkata, setelah menulis ribuan puisi saya makin tak mengerti apa itu puisi. Itu seperti orang yang pacaran lama, lalu menikah. Setelah sekian puluh tahun bersama, ia bilang, “saya makin tak mengerti siapa pasangan hidup saya….” Mungkin dia memang tak pernah mencoba mengerti siapa orang yang hidup bersamanya itu. Atau ia dari waktu ke waktu mematok standar yang terus meningkat. Akan tetapi tentu saja saja bebas menganggap puisi itu apa artinya baginya, juga bebas memperlakukan puisi bagaimana. Menulis puisi, menghasilkan puisi, bisa menunjukkan apa arti puisi bagi penulisnya.

Ichsan Nurseha, lahir di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 1997, kini domisili di sekitaran Tangerang. Mengaku jarang menulis, tetapi ingin belajar lebih dalam mengenai puisi, cerpen, atau memahami drama. “…. dalam lingkup ‘sastra’ yang biasanya orang-orang sering bilang.” Saran kami, perbanyaklah menulis dan membaca.

Tak ada cara lain untuk tahu lebih banyak tentang apapun kecuali menggaulinya dengan lebih intens.

Menulis adalah membawa diri ke tengah arena pertarungan kehidupan. Jika kita kuat bertahan di tengah arena itu, kita akan keluar sebagai pemenang. Yang kita peroleh adalah menemukan cara ucap dan pilihan tema yang khas milik kita, dan bonusnya lebih penting: kita menemukan siapa diri kita sesungguhnya. – ha/LS


Mabuk

Akademisi yang terlanjur
Anggur telah tumpah di tanah kita.

Sehingga kemurnian yang
Utuh dan bulat telah pecah.

Karena gagasan dan kesimpulan
Telah menjadi air kencing yang
Tidak pernah disiram.

Sehingga bau pesing bergandengan
Dengan trotoar dan lampu-lampu jalan,
Menambah daftar tontonan kehidupan.

Tangerang, 3 Jun 2019.

Kesementaraan Rumah

Bau segar muasal daun merimbun
Di sekujur sisa-sisa kegelisahan
Masuk tentram dalam tubuhku
Terasa aromanya yang paling kesturi.

O, dewa langit!
Kenapa kau lesapkan angin
melalui busur setingkat durjana
menghunus kegelapan pada kalbuku?

Sehingga sukma yang pusaka
merasakan masygul yang tak terkira-kira;
Memikirkan asal-mula yang luput
Dari kepala setiap jiwa manusia.

Dan terpagut buaian
dalam kenyenyakan khayali
memikirkan menjadi langit
dari kelahiran yang paling bumi.

20:47(2018).

Laut

Aku yang mabuk
Terpompa gelombang.
Dari kerumunan
Dibuang ke tepian.

Basah, tubuhku rebah
Pasir sebagian jengah
Melihatku terus bertingkah
Melulu bertitah.

“Aku cinta padamu!”
Gemuruhku pada busa-busa
Dan biru laut yang tabah, menerima.

Sampai juga kusangsikan
Jatuhnya tipuan tetes air mata
Menyatu pada keluasan laut, menerima.
Aku biru sebiru-birunya
Menggigil
Angin dingin ditubuhku dipeluknya.

21:26 Tangerang.