Azain Ni’am: Perjalanan Awal Pencarian

Catatan Pengantar:

Menulis puisi itu satu hal. Menulis puisi yang baik itu hal lain. Menulis puisi yang baik dan berkarakter itu hal lain lagi. Karakter itulah yang mungkin disebut sebagai gaya ucap. Penyair yang hebat menemukan bahasa, kata Sutardji Calzoum Bachri. Yang tak menemukan bahasa tak akan pernah menjadi penyair, atau Penyair (dengan P besar). Perjuangan panjang seorang penulis puisi yang ingin menjadi penyair, kemudian Penyair, adalah perjalanan menemukan bahasa, dengan kata lain menemukan dirinya sendiri. Puisi-puisi Azain Ni’am yang kita tampilkan kali ini harus kita baca sebagai bagian awal dari perjalanan panjangnya menemukan bahasanya, menemukan dirinya sendiri. Secara tema dan gaya ucap dia sudh memulai pencarian. Jauh berjalan, banyak melihat. Banyak melihat, banyak mendapat. Suatu hari dia pasti bisa mencapai puncaknya sendiri, puncak yang melampaui puncak-puncak puisi lain. – ha/LS

DOA SUBUH

Subuh itu telah membasuh tubuhmu
Ketika suara dari surau sebelah rumah
Menggerakkanmu ke gerbang Tuhan

Kau cium harum doa-doa di atas sajadah
Yang mengalir dari dadamu ke arah Sana
Hingga kau merasa begitu kecil—kosong

Di luar ada samar berkas-berkas cahaya
Di dalam ada diam hitam bayang-bayang
Meniti sunyi yang meretas di depan mata

Seperti seorang pertapa yang menanti firman
Kau tak henti-hentinya mencari wajah dirimu

Plumbon, 2019

PESAN JANUARI

Aku akan segera pergi di antara debur hujan
Dan debar angin; pergi dengan luka di badan

Kau lihat langit kian cemas, musim memaksa
Kita pasrah pada cuaca dan menanti matahari

Mungkin mekar bunga-bunga yang selama ini
Aku sirami akan membuatmu merasa bahagia

Atau subur tetumbuhan yang kita rawat selalu
Akan memanggiku untuk kembali kepadamu

Aku akan pergi darimu dengan penuh air mata
Dan kau cukup berdoa agar hilang segala duka

Plumbon, 2019

NISKALA

Deru kipas angin
Di dalam ruang

Malam hari

Adalah doa
Yang berputar

Di dalam tubuhmu

Adalah lagu
Yang membawamu

Ke luar dunia

Plumbon, 2019

IMPRESI

I
Malam membuka pintu:
Aku kini menunggumu
Datang dari luar diriku

Di mana kau sekarang,
Bayang di dalam terang,
Cahaya di dalam ruang?

II
Begitu saja detik terlepas
Dan kata-kata bergegas
Menuju sunyi yang pungkas

Di sini, di dalam puisi ini,
Apakah kau merasa sepi,
Apakah kau merasa sendiri?

Plumbon, 2019

SONETA MALAM

Aku telah membayangkan malam ini:
Aku akan duduk sendiri
Dan kau hanya kata
Tanpa gema

Waktu melambat dan berdebar
Ruang menggigil dan bisu;
Hujan deras di luar
Adalah caraku memanggilmu

Tapi seperti katamu,
Kau tak akan kembali,
Tak akan ada di sini

Dan malam tetaplah malam:
Mata yang menyimpan hitam
Dan putih cinta kita

Plumbon, 2019

Iklan