Sajak-sajak Panji Aswan dan Kenapa Mengambil Jarak Itu Penting?

Catatan Pengantar:

Penyair melihat kenyataan. Tapi puisi ditulis sebagai penglihatan di atas kenyataan. Kalau tidak maka hasilnya adalah reportase saja yang tak mengandung kualitas permenungan yang membuat puisi menjadi lebih berharga.

Penyair terlibat peristiwa. Tapi puisi ditulis setelah penyair mengambil jarak dengan peristiwa itu. Jarak waktu dan jarak peristiwa, apa yang memberinya ruang untuk merenung, membangun dan memberi makna pada apa yang hendak ia tuliskan.

Puisi spontan seringkali jatuh menjadi mentah dan transparan karena ketiadaan jarak itu.

Panji Aswan mencoba menggarap peristiwa aktual yang tentu saja menarik perhatian semua orang yang berhati dan berakal di negeri ini. Ia belum cukup sabar untuk bisa mengambil jarak yang cukup dengan peristiwa itu. Sebagai pembaca saya ingin ‘diberi lebih’ dari peristiwa yang saya sudah tahu itu. Puisi adalah derma penyair, memberi makna yang bisa membuat pembacanya lebih bijak menghadapi hidup lewat peristiwa yang dipuisikan.

Panji lahir di Samarinda tepat 25 tahun yang lalu. Aktif berkeliaran dan berkegiatan di beberapa komunitas seperti komunitas Jaring Penulis Kaltim, komunitas Buku Enam, Forum Diskusi Sastra dan Budaya SINDIKAT LEBAH BERPIKIR, Forum Lingkar Pena, dan relawan Aksi Kamisan Kaltim.
Masih berjuang untuk lulus di program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman. Saat ini telah menjadi editor tetap di penerbitan Indie bernama PPMPI Publishing. Intip karyanya di panjiprosadanpuisi.blogspot.com. [ha/LS]


Bulan Mei

Bulan
Mei jadi suci
rakyat berpuasa,
penyair berpuisi

Mei
kamu tak lagi suci. manusia
sanggup menahan lapar
tetapi tak sanggup menahan emosi

Ambulans
Jadi rumah batu-batu
Bubuk mesiu
Minyak gas lebih senang
menyulut api, meledak-ledak

Mei yang suci
waktumu sudah habis
tak usah gebrak-gebrak meja
apalagi entak kaki ke bumi

Takbir telah terucap
petasan kembang api mencuar
(tidak) di sana aku berdiri
tanah tertumpah darah

2019


Pada Secangkir Teh

Aku berdoa
pada secangkir teh

Malam ini
kembalikan kedamaian

yang kemarin terkapar
dilempari batu-batu
bom molotov

Pindahkan ibu di kota
ke hutan belantara

Tapi jangan jadikan
sebatang pohon
berbaris dan sembunyi

dalam sekotak
tusuk gigi

2019 

Ke Mana Puisiku Sekarang?

Jika kau tanya
“ke mana puisimu
sekarang?”

Mereka sedang
berjihad
Kata-kata melepaskan
diri dari kotak
suara. Mencari
jalan baru

Kau cerewet sekali
dan bertanya
lagi “di mana puisimu
sekarang?”

Mereka berada
di tanah
suci, mengubur segala
rendah untuk
menemukan seorang
fitri

2019 


Pulang

Dua hari lalu
Pemuka agama
diberitahukan telah
memesan tiket kereta
ke surga

Kepergiannya
disambut warga
dengan batu
dan bom molotov

Dan polisi bertameng
menyambut dengan
dada yang sesak
“Bapak kapan pulang?” anak balita menyapa
di ujung telepon
“aku mau main sama Bapak. Mau disuapi Bapak
Mau dimandiin Bapak.”

Mei, 2019

Iklan