Bersama Ilham: Di Meja Panjang Kantin Karyawan pada Jam Makan Siang

Catatan Pengantar:
Bahasa puisi membentang antara yang diafan dan yang prismatis. Yang diafan itu terang-benderang. Bisa dimengerti sekali baca. Yang prismatis itu dibikin menyimpang dari bahasa sehari-hari, memancing pembacaan dan pemakanaan yang berbagai ragam.

Penyair harus meletakkan puisi di antara dua titik itu, agar puisinya tak jatuh menjadi teks yang membosankan karena terlalu cair, dan tak juga menjadi dekoratif, berbunga-bunga, atau tak terpahami karena terlalu gelap.

Pengalaman sehari-hari, peristiwa yang dialami, dan tanggapan perasaan atas peristiwa itu, adalah bahan untuk dituliskan menjadi puisi. Terutama puisi lirik, yang memang mengandalkan kecermatan mengalami peristiwa alam sekitar, dan kemampuan merumuskan perasaan untuk disatukan dengan peristiwa alam itu, menjadi bait-bait puisi.

Penyair harus melakukan eksperimen pengucapan terus-menerus dari puisi ke puisinya, agar penyatuan kedua hal itu menjadi sublim dan wajar. Jika melulu hanya catatan peristiwa maka puisinya tak lebih dari laporan pandangan mata. Jika melulu perasaan puisinya hanya menjadi sajak yang sentimentil. Keduanya tak cukup bernilai puisi.

Ilham Rio Baramika (Jambi, 12 Agustus 1995), lulusan Universitas Ritsumeikan Asia Pacific, yang kini bermukim di Tokyo, mengirimkan empat puisi yang kita tampilkan kali ini. Jika saya seorang juri lomba penulisan puisi, dan empat puisi ini dikirim oleh empat peserta yang berbeda, dan saya harus memilih satu puisi terbaik, maka saya memilih puisi yang keempat (“Di Meja Panjang Kantin Karyawan Pada Jam Makan Siang”). Kenapa? Karena puisilah yang paling mendekati dua kriteria puisi yang baik yang diuraikan di atas.

Semua puisi Ilham memperkaya pengalaman saya yang tak pernah mengalami peristiwa khas yang ia puisikan. Ia pengamat dan pencatat yang cermat. Ini bekal sangat penting untuk menulis sajak liris dan sajak imajis yang kuat. Tapi puisi bukan catatan di buku harian. Itu baru bahan untuk dipuisikan dengan memberdayakan seluruh potensi bahasa dan alat-alat puitika. Hal itulah yang saya dapatkan paling banyak pada puisi yang keempat. Puisi itu tidak lagi saya hanya sebagai catatan pengalaman seorang berpuasa di negeri Jepang, tepatnya di meja ruang makan karyawan di sebuah perusahaan di Jepang pada jam makan siang. Ia melampaui peristiwa yang menjadi sumber bahan yang dipuisikan. Saya tergoda untuk terus mengulang membaca dan menikmati setiap perasaan dan imajinasi melanda setiap kali menelusuri bait-baitnya. Selamat menikmati… ha/LS

Di Pelataran Terminal 3 Narita

Karena sering terbang murah
aku jadi terbiasa menimbang
dan memilah

seperti penerbangan yang sudah sudah
usai memilah keresahan
di pelataran gerbang keberangkatan

demi menghindari batas muatan
rindu lekas aku tanggalkan
tepat sebelum koper naik
ke atas timbangan

“Jangan ditinggal lagi, kali ini kita tempel saja
dengan label barang pecah belah”
tawar petugas kargo terminal
yang mulai nakal

Aku bimbang
Aku resah
sialan! aku ditinggal terbang.

Di suatu Jeda dari Tepian Taman Inokashira

Gelap rapi memangkas rindang dalam sekejap
sudut demi sudut
hingga musim gugur
sempurna mengambil wujud

Telinga yang tersumbat rasa sungkan
tak kunjung berkenalan dengan petikan gitar musisi
yang selepas dari petang melantun tembang
tanpa menerima sepeser pun basa basi

Separuh bulan
tenggelam ke dasar kolam
kata demi kata
mulai gugur ke tepian
bersama kontemplasi setengah utuh
dari sepenggal puisi yang urung tersentuh

Di bawah redup lampu taman

secangkir kopi yang diracik tanpa percakapan
tak mampu menghangatkan musim
dan dingin kota yang semakin asing.

(27 Oktober/17.30/ Dari pinggiran hiruk pikuk Tokyo)

Dari Pojok Timur Stasiun Beppu

Ada pergantian musim,
sedari melintasi empat persimpangan
yang di mana laju waktu
tertahan
oleh lampu merah di musim gugur.

Kita menunggu di pojok timur,
sehabis membuang muka dari rutinitas
jauh di luar pintu sebelah barat stasiun

Kau bertanya,
“kenapa kita tidak naik kereta saja?”
Aku mulai ragu
sepertinya kau terburu-buru,
lebih dari turis yang sejak tadi
lalu-lalang
sibuk mencari ke arah mana jalan pulang

jujur saja aku tidak ingin buru-buru.
Dan stasiun ini memang bukan
untuk penumpang yang tergesa gesa.

Aku minta kau bercerita lebih banyak lagi
tentang apa saja
bukan lagi tentang mu pun tak apa juga
asal bukan tentang jadwal keberangkatan kereta.

Namun kau sudah terlanjur diburu waktu,
stasiun ini bukan lagi ruang tunggumu.

Kau pun berlalu
bersama sesak penumpang yang bergantian hilang
Seperti teduh siang bolong
yang hanya menyisakan terik,
ketika hengkang sepanjang obon.

dan aku menunggu di pojok timur,
sendirian menenggak musim panas
yang kini tersisa kurang dari setengah gelas.

Di Meja Panjang Kantin Karyawan pada Jam Makan Siang

Ia lahap menyantap sepenggal puisi
Bait demi bait
Agar niat puasa yang tersimpan rapi,
Dalam sekotak bento onigiri
Terjaga hangat hingga malam

Walau sebenarnya ia paham
Sia-sia menunggu azan
Dari balik lonceng – lonceng kuil di penghujung gang

Dalam detak jam
yang tak letih memuja detik yang hilang
kering pada pangkal tenggorokan
hanya sebagian pertanda
dari neraka yang sedang lengang.

(Tokiwa – Jepang, Mei 2019 – Ramadhan 1440 H)

Iklan