Kini, Kita Tunggu Seberapa Tinggi Qiny Mampu Mendaki

Processed with VSCO with m5 preset

Catatan Pengantar:

Jika kau hanya mencatat peristiwa yang kau alami maka puisimu hanya akan jadi laporan yang datar. Jika kau hanya mencurahkan perasaan yang kau rasakan maka puisimu hanya akan berlimpah kecengengan.

Penyair bekerja memadukan keduanya. Bagaimana menyeludupkan (atau bahkan meleburkan) perasaan ke dalam bangunan imaji dari kejelian mengamati peristiwa atau hal apa saja di luar dirinya. Itulah tantangan menulis sajak. Khususnya sajak liris. Seperti sajak-sajak yang ditulis oleh Qiny Shonia (Tasikmalaya, 2 Juni 1993).

Qiny punya modal yang baik untuk melakukan kedua hal itu. Dia cermat mengamati dengan mata fotografis dan telinga yang peka (tertangkaplah olehnya patung kodok di tepi kolam, siaran televisi, lagu Neil Young, kecipak gerimis, dll). Dia juga tenang mengongkretkan perasaannya dalam diksi yang lincah tanpa menjadi cengeng.

Memang ada beberapa bagian yang masih terasa mentah untuk disajikan. Dengan sedikit kesabaran untuk lebih telaten mengolah pengucapan akan terasa merata matang sajaknya. Di tengah langkanya penyair perempuan yang kuat di negeri ini, saya kira Qiny layak kita tunggu seberapa tinggi ia bisa mendaki ke puncak sajak. – ha/LS


 

Pesta Perayaan Kesedihan

Kami pernah merayakan kesedihan
Bukan amat sangat
Hanya kegagalan kecil yang patut
dirayakan di atas ketinggian tidak jauh
dari awan
Sebuah pesta sederhana dengan kudapan manis
di meja paling ujung dari pintu masuk akan hati
yang berat dan gentar
Dua gelas minuman dingin dituang seenaknya tanpa
tahu hari semasam apa sekarang

Pagi itu, kami merayakan kesedihan
Disaksikan patung-patung katak di pinggir kolam
Cukup dalam dari hening malam ketika pertanyaan-pertanyaan
bodoh akan serial televisi ditayangkan diserbu
ribuan penggemar
Sebelum memutuskan meneruskan perjalanan, kami
berfoto dan tertawa sampai kekenyangan
dan lupa menyeka tangis terlambat datang

2018

Kita Akan Saling Menghantui dengan Menyenangkan

Kupikir, menari diterangi sorot lampu jalanan kota cukup terpencil ini salah satu ide terbaik saat kau singgah. Neil Young tidak akan serta merta marah dan keberatan jika kau memutar Harvest Moon di mobil tuamu. Bekerja sama dengan kecipak gerimis yang Tuhan bangun.
Kita akan saling menghantui dengan menyenangkan setiap hari. Setiap duduk di kendaraan. Setiap melintasi jalanan sore berawan. Setiap hujan turun dan kaki bertemu basah. Kita akan kerap berdiam dalam benak masing- masing. Saling berkunjung, sebagai tamu dan tuan rumah.

2018
Ivory

Aku melihat taman-taman di dua mata
dengan kelopak setengah purnama
di tengah kota mati tak berpenghuni
yang dikenali hanya dedaunan jatuh
kering, berserakan
Seumpama musim gugur di sepanjang tahun

Setelah tatap menetap,
kucuri baik-baik musim dingin
juga musim-musim yang lain

Kau tidak keberatan, bukan?

2018
Belajar Meredam Meriam

Di atas tumpukan puisi-puisi yang kau baca
Aku belajar meredam meriam
Percikannya menguar di antah berantah
setelah kukipasi oleh lembar koran yang
ayah baca setiap pagi

konon katanya meriam ini ada dalam
setiap jiwa manusia
Percaya atau tidak
Namun aku sedikit percaya
Meredamnya hanya perlu damai
bersama diri sendiri
Meski sulit dan rumit
2018

 

Mereka yang Hobinya Menerka-nerka

Mereka gemar menerka-nerka
Entah akan aku
atau buku tulisku
yang kerap kubelai dan timang di kerumunan

Katanya buku diary
Buku harian berwarna-warni
Oh, mungkin buku harian berupa lembaran-lembaran kelabu di benak
paling dalam

Ah, katanya buku hutang
Benarkah?
Tunggu, apa barangkali aku pernah berhutang pada puisi? atau pula ia
beribu tanya yang tak sempat kuantar ke depan pintu rumahmu?

2018