“Pelamun” dan Kelu-kesah Ilham Maulana dari Karawang

Catatan Pengantar:

“Menulis puisi adalah melakukan senam imajinasi, setiap mencoba keluar dari kebingungan kata, kita diajak berinteraksi dengan masa lalu yang bisa tiba-tiba hadir…,” kata Ilham Maulana. Ia lahir di Jakarta, Juli 1997. Kini tinggal di Karawang, sedang menempuh pendidikan  di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Pengakuan Ilham di pengantar puisinya yang ia kirim ke Lahir Sajak dengan serta-merta mengingatkan pada rumusan Kuntowijoyo. Beliau katakan karya sastra adalah strukturisasi dari tiga hal: pengalaman, imajinasi, nilai-nilai.  Puisi bagi Ilham adalah senam imajinasi. Pengalaman adalah “masa lalu yang bisa tiba-tiba hadir…”.

Proses yang tidak mudah (mencoba keluar dari kebingungan kata), tapi tentu saja asyik. Keasyikan proses itu akan tampak pada puisi yang dihasilkan.  Bacalah satu puisinya yang disajikan di sini.  Cukup satu saja. Empat puisinya yang lain sama bagusnya. Kita sajikan kelak dengan ulasan yang lain.

Menulis puisi pada dasarnya adalah menjawab dua pertanyaan: Mau menulis apa? Bagimana cara menuliskannya?   Sajak “Pelamun”  memotret kehidupan rakyat urban tanpa terjerumus menjadi jargon-jargon mentah. Ilham menyatukan dirinya dengan bahan yang ia amati untuk sajaknya. Jadilah sebuah sajak liris yang punya jalinan imaji yang padu dan menuntut untuk dibaca berulang kali.

Ada kenakalan dan kejelian mengolah diksi, misalnya pada kata “kelu-kesah” (lazimnya adalah “keluh-kesah”, bukan?)  yang tampak sepele tapi kehadirannya memberi banyak tenaga imaji pada sajak ini, menghadirkan muatan emosi.

Tak sia-sia Ilham mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan Perpustakaan Jalanan Karawang. Selamat datang di dunia puisi Indonesia.

 


Pelamun

Ia mengamati rutinitas perumahan dari balik jendela
rumah. Menyiratkan bahasa kenari dalam sangkar
teratur mencicip kelopak kol dan biji-bijian,
duduk di ranting buatan, berjingkrak-jingkrak
identitas seseorang.

Bila masa tua diatur sebatas pensiunan, kemana impian
masa lalu berlabuh? Sedang pagi dihabiskan demi
sejumlah gaji yang nanti bersih dipatuk kebutuhan orang
terkasih. Khawatir menetap, terkurung dan lelah.
Ia menghindar, sebab dunia hanya reranting yang
malu mendongak pagi, tanpa ibunda
masihlah tumbuhan kering.

Ia menyusun sendiri kegiatan-kegiatan.
Mengganti bus karyawan dengan siulan
Melangkahi pagar berarti membiarkan matahari membeli kulit,
sedang tahunnya malam belaka
setelah perempuan dari album yang lain
menghapus pertemuan
antara panggung dan pujangga.

Dalam memori ia pamit sebentar. Sebab air di bak mandi tumpah
bersama segayung pertanyaan.
Ia mesti menutup keran juga kemungkinan.
Bagaimanalah seekor kenari menerangkan
jika tembangnya bukanlah puja bagi tanaman
yang berjajar. Bukan pula pengingat bagi sesiapa
ingin menutup kisah.
Kesibukan memicu romantika keluar
belum cukup menjaganya dari amarah.

Ia mengingat kapan terakhir kali beradu pendapat,
tentang diam yang telah menjadi tabiat.
Masing-masing mengulur jawaban
agar tubuh yang bertolak akhirnya paham
Mengusir keinginan
hanya menguatkan bayangan wajah.

Ia memandang tamu yang mampir mengutang.
Apa kelu-kesah bakal terlunasi dengan mudah?
Ia buat janji jam Sembilan.
Buket di tangan berisi sif malam.

2019