Sajak-sajak Aldri Fajar dan Jalan antara Dua Kutub yang Ia Tempuh

DALAM kacamata teori dan kritik formalisme, sajak-sajak Aldri Fajar Muhammad yang dihidangkan di sini, adalah sajak yang berhasil. Formalisme mensyaratkan satu hal saja: bentuk bahasa. Sastra disebut sastra karena bahasa sastra berbeda dengan bahasa umum.  Ada pembelokan. Ada deviasi. Isi dan makna tak penting bagi sastra. Kajian tentng isi diserahkan pada bidang lain.

Dalam sejarah puisi Indonesia, puisi-puisi yang mengusung formaslisme itu, sadar atau tidak, terbentur pada satu dinding bernama: puisi gelap. Puisi yang sama sekali tak bisa dimaknai. Asyik dengan bentuk.  Tak peduli pada isi dan makna. Hingga dalam suatu esai Goenawan Mohammad menuliskan bagaimana persoalan itu disikapi. Ia menulis, di sini,… dan ini petikannya:

Penyair harus meletakkan sajaknya di antara “kegelapan-supaya-tidak-dimengerti” dan “tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca”, tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu.

AldrI,  lahir di Jakarta 14 Desember 1994, kini tinggal di Depok dan masih sebagai mahasiswa aktif di IPB, Bogor, tampak sudah menemukan keasyikan bermain bentuk. Ia mencoba memakai kata dengan makna yang coba ia perbaharui. Ia mencoba kalimat yang tak lazim, juga percobaan dengan metafora-metafora baru. Berhasilkah dia? Ukurannya adalah titik ekstrem yang dipatok Goenawan, antara “kegelapan-supaya-tidak-dimengerti” dan “tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca”.

ldri (penakota.id/penulis/aldrifajar) yang pernah bekerja lepas sebagai pelatih panahan serta penggiat perpustakaan jalanan di Bogor, terasa bisa meletakkan puisinya di antara dua kutub itu.  Tapi catatan buat dia, menyimpang tak asal menyimpang. Pembaca harus dibayangkan bisa membawa kembali penyimpangan itu ke pangkal bahasa, yang bisa di mana-mana tempatnya. ha-LS

 


 

Narasi Takut

Sela-sela gua bertasbih dengan nyalak yang
perih, meneruskan endapan mulut kami yang
disungkup padam. Lebih padam dari pesulap
yang gagal mencurangi sekap di suatu kolam.

Ada kami yang takut malam karena apa
yang di balik kelam dan ada malam takut akan kami
yang berbadan kelam. Dan setiap malam bertamu tiba-tiba,
mungkin kami atau malam yang dicekat kata ”han…?!”
di tengah tenggorokan lalu gelepar badan yang pingsan
jadi santapan lainnya:
entah malam atau kami yang makan atau dimakan.
Entah kapan kami dan malam saling makan.

Ruang waktu lupa ingin berwujud waktu atau
ruang saat kami hanya tahu di mana tanpa kapan
atau kapan tanpa di mana hingga lebih sibuk berjudi
siapa yang makan siapa.

: Waktu lelah menghitung jam,
ruang penat menjawab alamat, dan
kami jengah bertanya Tanya.

Sela-sela gua berdoa tasbihnya tak padam-redam

2017

 


 

Dengung

Aku diam dalam dentang
Sambil mengingat debur ombak
Mendempul bibir karang

Dentum besi memang hangat
Namun hati bukan tempaan
Biar saja lapuk dilembut lembab

Tolong, jangan memantik apapun
Dalam teduh pinus walau hanya
Serapah tersejuk pun.
Gigilku kerap membantu Tuhan memeluk
2019


 

Ingin

Keinginan kian habis.
Larut malam menghisab bulir
Yang enggan kering di kening.

Di mana Tenang saat
Esok tak mau dipawang? Padahal
Kita tak mau dijinakkan.

Selalu ada simpang tempat
Tawar-menawar. Kalian ingin membeli,
Aku enggan terjual.

Pilihan tak bisa pulang.
Di belantara, Ia menolak
Makan tubuh sendiri.

Pencarian berakhir setelah
Tak ada Jejak yang mau
Percuma.
2019


Ode di Perbatasan

“hidup jadi berarti dan keramat” – Subagio Sastrowardoyo (Burung)

Tak diperuntukkan suaka bagi mereka
Peletak nyawa di ambang senja.

Mereka melayang kala
Siur memuput dosadosa
Yang kau genggam sebagai
Lusinan lontar seluruh umat:
Dunia adalah tumpukan taubat

Walau satusatu bergugur
Umpama tali layang putus
Tertangkap di reranting randu,
Segala juang adalah hidup yang direstu.

Tanpa sanggup mengabarkan
Uratnya terbelah di Bumi
Untuk tiap hidup yang bayi
Disapih Ibu, dirahmati.
2017-2018


Tapi

Tuhan mencipta kita bersama kata di sela antara agar pilihan tak mutlak lalu telanjur sesat di kabut angan. Jika angan dahulu bersayap, tentu sudah disayat sekian lama lantaran takut menasib diri pada ketaklekasan Icarus menimbang kemampuan. Karena awal mula tanya adalah bimbang, pemandu jalan di persimpangan.

Kita menghargai kebimbangan sejak kata tercipta.

2017-2018