Justru Ajitio Puspo Utomo harus Cermat Menulis dengan Ejaan yang Benar

Catatan Pengantar:

“Di” sebagai kata depan (yang harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, yang temannya adalah “ke”, “daro”…dll), dan “di” sebagai awalan (yang fungsinya membentuk kalimat pasif, yang lawannya adalah adalah awalan “me”) kenapa sih sulit sekali dibedakan? Termasuk oleh Ajitio Puspo Utomo ini. Dari Cirebon, penulis kelahiran 27 Mei 2000 ini kirim lima puisi. Puisinya menunjukkan ia punya bakat yang sangat potensial untuk dikembangkan. Terutama pada sajak “Justru”.  Ada kejelian dan kecermatan menangkap hal-hal kecil di sekitar dia.  Yang harus segera ia perbaiki yang soal penulisan dengan ejaan yang benar. Puisi-puisinya sengaja diterbitkan tanpa perbaikan pada ejaan. “Di” dan “ke” sebagai kata depan ia tulis menyatu. – ha/LS

 


 

Kepada Malam Ini

(Didesa)
Dingin telah lindap ketengah sawah
Angin telah pulang di mulut gua

Kunang-kunang masih terang
Ditemani gemintang bintang

(Dikota)
Orang-orang masih belum pulang
Masih dijalan sehabis kerja shift malam

Jalanan sudah numpuk remaja
Yang memarkir motor customenya
Yang entah besok sekolah atau bolos

(Didesa)
Petani sudah tidur di bale kamarnya
Istrinya mengelon anak-anak berwajah lugu

Hanya tinggal bunyi jangkrik dan belalang
Yang menjadi orkestra pengantar mimpi

(Dikota)
Tetangga masih melek dan bernyanyi
Dengan gitar akustiknya yang bising

Jalanan sudah seperti medan tempur
Remaja seringkali terlihat menggempur

Orang-orang y ang telah pulang

Dari kerja shift malam
Dan menjarah upah dari kerja siangnya

2019


Dimasjid

Aku masih belum pulang dari sini
Pak ustad ceramah lama sekali
Hujan telah sudah mengguyur jalanan ini
Dan angin merasuk kecelah jendela dan pintu
Disini sajadah hijau masih terhampar
Belum kotor, masih suci
Masih meninggalkan bekas basah keningmu
Yang tak ditutup peci

2019


Justru

Justru itu kita disini
Memberi konten apa yang belum
Pada instagram, twitter dan youtube kita
Menyilak isi rok politik yang belum terbuka
Mencari gua dan menyelaminya yang belum
Dan orang seperti kita tak peduli

Justru harusnya kita bicara disini
Berapa banyak yang mengikuti kita
Memberikan khutbah tentang apa yang belum
Mencari hantu dan menjadi tuhan
Mengeluarkan fakta yang akan
Dan hanya orang seperti kita

Justru itu kita harus segera pergi
Atau mungkin segera mati
Atau juga kita kebiri siapa yang belum
Menebar kata-kata yang tak ranum
Menebar puisi yang paling pasti dan sepi

2019