Kenapa Sajak Ardhi Ditulis Rata Tengah?

Kenapa Ardhi Ridwansyah (lahir di Jakarta 4 Juli 1998, mahasiwa jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta) menulis puisinya dengan tipografi rata tengah? Apakah kalau ditulis dengan cara lain arti sajaknya akan berubah? Apakah ia hanya ingin sekadar beda?

Tipografi sebagai mana perangkat puisi lainnya tentu bisa bebas digunakan atau tidak digunakan. Pertanyaannya selalu: kenapa? Dan buat apa? Apakah dia menambah makna pada puisi? Ataukah menambah unsur lain seperti emosi misalnya? Jika tidak, perangkat apapun hanya akan tampak sebagai polesan yang tampak dibuat-buat.

Itu terjadi pada tiga sajak Ardhi ini. Sebaiknya ia beri perhatian lebih besar pada isi sajaknya.  Bahan yang ia sajakkan, apaa yang ingin ia sajakkan, masih tersaji mentah. Nyaris tanpa olahan sama sekali. Ia masih terbawa perasaannya sendiri, terbawa keharuannya sendiri atau cuma sedikit memberi komentar atas laporan pandangan mata. Sajak yang nyaris hanya hambar.  Masih jauh untuk jadi matang, sampai pada kemampuan menyusun konsepsi tentang kehidupan.  – h/LS

 

 


Paku

Aku sadar.
Bahwa tak semestinya.
Kutancapkan paku di hatimu.
Paku yang menancap erat.
Hingga kau merasakan perihnya.

Berlinang airmatamu, pertanda begitu sakitnya.
Perasaanmu yang kian menjelma.
Menjadi gundukan amarah.
Yang semakin membesar dan siap melahapku.

Kucoba cabut paku itu agar kau terbebas dari perih
Upayaku berhasil, tapi paku menyisakan lubang yang sulit ditambal.
Menjadi luka yang selalu diingat.
Dan menyisakan nestapa hati.

 


Gadis Kereta

Tatkala kereta berjalan.
Meninggalkan stasiun dengan perlahan.
Kutatap wajahmu yang begitu lelah.
Hingga aku begitu terperangah.

Kau terdesak, aku pun sama.
Keramaian membuat kita terpaksa.
Untuk saling memangkas jarak.
Dan berdekatan satu sama lain.

Tentu aku sadar.
Bahwa diri ini tak mengenalmu.
Kau pun tak mengenalku.
Tapi entah mengapa seperti ada getaran cinta.

Dalam posisi dekat, aku tak berani memandang.
Matamu yang indah mempesona.
Kau pun tampak malu tatkala melihatku.
Aku tak peduli soal itu, kini aku dekat denganmu.
Meski hanya sementara.

Kala malam telah menyapa.
Laju kereta terhenti di sebuah stasiun.
Kau keluar dengan susah payah.
Hingga akhirnya kau pergi tinggalkanku.

Yang kini kurasakan hanya sisa aroma parfumnya.
Nan kian menyelimuti hidungku.
Dan merasuk ke dalam pikiran.
Sekarang, kau akan kuingat wahai gadis kereta!


Sup

Kupandangi ia dari punggungnya.
Tangannya yang lentik.
Dengan lihai mengaduk.
Sebuah santapan penggugah selera.

Tiap adukan, membuat aroma dari sup.
Menyebar ke penjuru ruang.
Ia mengetuk hidungku lalu memasukinya.
Perutku berdendang, menggaungkan irama keroncong.

Kubersiap menyantap.
Hidangan istriku yang mempesona.
Kusiapkan piring, gelas, dan sendok.
Tak sabar menikmati sup itu.

Wanitaku datang.
Ia menebar senyum padaku.
Matanya sendu dan teduh.
Kubersyukur bisa berdamping dengannya.

Ditaruhlah sup itu di atas meja tua.
Kutatap wajahnya yang ayu.
Kemudian kuajak ia makan bersama.
Andai ada anak, lebih sempurna hidupku ini.

Nahas, dia menolak.
Dia masuk ke kamar, menutup pintu.
Sosoknya hilang, kusendiri ditemani sepi.
Kunikmati sup itu dan rasakan kehangatan dibalut rasa asin.

Lidahku memberontak.
Aku mengeluh, “Mengapa asin begini?!”
Kubuka pintu kamar dan kulihat wanitaku menangis.
Kucoba menenangkannya, kubelai rambutnya penuh kasih.

Ia menangis tersedu-sedu.
Hatiku bergejolak, pikiranku kalut
Aku bertanya, “Ada apa, sayang?”
Ia jawab, “Maaf kalau keasinan, Mas. Aku menangis ketika masak sup itu.”

Kumerenung, istriku nan jelita amat kecewa
Kutanya, “Apa yang membuatmu menangis seperti ini?”
Dengan berat ia berucap, “Aku mandul Mas, aku mandul!”
Perkataannya membikin harapanku terbang seperti burung.