Idanya Chairil, Reveananya Aflaha

ADA beberapa kali nama IDA muncul dalam sajak Chairil Anwar. Siapakah Ida bagi Chairil? Apakah Ida yang sama harus kita terima sebagai pembaca?  Ida mungkin bisa kita rujuk ke seseorang dalam sejarah hidup penyairnya. Ida itu pastilah dia yang karena persentuhan dengannya membuat Chairil merenung dan menuliskan renungan itu dalam sajak.  Tapi sebagaimana penulis bisa dianggap telah mati setelah karyanya rampung maka seseorang yang menginspirasinya menulis pun bisa dianggap sepi. Ida tak lagi ada setelah Ida dituliskan dalam puisi. Ida dalam sajak bukan lagi Ida sebelum ia dihadirkan dalam sajak. Pembaca bisa menciptakan Idanya sendiri dari Ida yang ada dalam sajak Chairil.

Ada banyak nama yang muncul berulang kali dalam sajak penyair Indonesia.  Selain Ida, ada Susi dalam sajak Gus tf.  Atau Siti dalam sajak-sajak Afrizal Malna. Alina-nya Sutardji Calzoum Bachri.  Sebagaimana Ida, kita juga tak tahu atau tak perlu tahu siapa Susi, Alina, dan Siti.  Modus menyajak seperti itu – yaitu mempersembahkan serangkai sajak untuk sebuah nama – bisa jadi efektif, bisa juga menghalangi orang masuk ke dalam sajak.  Atau sia-sia. Orang toh tak peduli pada nama itu.  Misalnya, apakah kita peduli siapa Mathilda Urrutia? Nama yang kepadanya Pablo Neruda menulis seratus soneta cinta? Soneta Neruda itu bisa dinikmati senikmat-nikmatnya tanpa peduli bahwa itu dia tulis untuk seseorang. Justru dengan itu Neruda berhasil. Sajak cintanya menjadi meluas, menguniversal. Mathilde tidak menjadi penghalang bagi pembaca untuk masuk ke dalam dunia sajak Neruda.

Lima sajak Aflaha Rizal (lahir di Bogor, 26 Agustus 1997, sedang kuliah di Komunikasi Universitas Pancasila) berikut ini ia tulis dengan menujukannya pada sebuah nama: Reveana. Bacalah, dan indahkan lalu abaikan nama itu. Masuklah ke dalam sajaknya. Rasakan apakah Reveana memperlancar atau menghambat jalanmu sebagai pembaca masuk ke dalam sajaknya? Atau kamu bisa menemukan Reveana-mu yang bukan Reveana Aflaha di sajak-sajaknya?  h-LS

 


Ingin Kemana Lagi Reveana?

Ingin kemana lagi Reveana? Tetapi aku angin sunyi yang
tak dapat kau dengar sanubari kata-kataku. Hari kemarin, ketika
aku menjelma badai dalam kamar, aku menulis kata-kata ini
kelak pada suatu hari pagi nanti.

Ingin kemana lagi Reveana? Barangkali kau tak dapat mampu
menciptakan jarak yang tak jauh. Namun perlahan kau mencipta
jarak-jarak jalan itu. Tanpa lalu lintas, kemacetan, dan gedung
berdiri di samping jalanan. Jarak jalan kau: jauh kemudian tanpa
bertemu.

Ingin kemana lagi Reveana? Di suatu internet, wajah kau menjelma
ratu yang tak kukenal. Sepasang mata kau ketika tua, adalah kenangan
jauh yang kelak kau mampu tersenyum kembali. Kecantikan yang merawat
seperti senja yang kau lihat itu. Aku angin sunyi, tak terjamah pada aroma
tubuhmu.

Ingin kemana lagi Reveana? Jangan pergi, kataku.
Doaku ialah padamu, untuk rumahku. 

Bogor, 2019

 


Sunyi Itu Reveana

1

Sunyi itu Reveana, kecipak air danau sendiri, tanpa
ikan, tanpa rambut tumbuh, tapna pengunjung yang
suka melempar batu.

Aku melihat pengunjung itu, seorang anak kecil yang
melepas tangkai sunyinya untuk menikmati akhir pekan
yang lebih mekar.

Tidak ada api yang membakar sunyi ini Reveana. Jika
waktu membuat hari padamu, datanglah, masuklah. Tak
lupa cintai aku sekali lagi. Sebab aku sunyi besar yang
telah dicuri dari tangan-tangan seorang menyakitiku.

2
Sunyi itu Reveana, dongeng tanpa pembaca dan pengarang
menunggu tergerus tiba. Seolah-olah hidupnya ditentukan
hari ini.

Kau bilang aku penyair. Itu sebabnya aku mampu mencium
bibir sunyimu. Setelahnya, lengan panjang bagi waktu
hidupmu.

Datanglah. Aku akan memeluk kau dan melahirkan anak-anak
dari rahim tabahmu. Tidak ada keramaian dan kejahatan. Rumah
akan sunyi selain kita di dalamnya.

Bibirku, menunggu secangkir kopi lebih dalam dan
menikmatinya serupa ciuman kita.

Bogor, 2018

 


Maghrib Reveana

Mata kau telah tiba di sungai senja. Lalu sungai
kata-kata. Dan daun pohon berjatuhan.

Tuhan menunggu doa dari bibir kau. Rupanya ia
sayang pada kau. Rambut panjang yang wangi
dari aroma buah jauh kemudian mampir di
haribaan doa-doamu.

Dan Tuhan, kini sedang menciummu.

Bogor, 2018

 


Bogor, Hujan, Reveana

                                                                                                      
Alvt

Jemari kita perlahan merinai Reveana. Pada suatu hal
dalam benang mengikat perlahan, aku menjelma pakaian
hangat bila suatu waktu tubuh kau jatuh ke liang sunyiku.

Seorang anak kecil yang kita tebak namanya berlarian kecil.
Berteriak seperti gaung merdu dari Tuhan, pada rupa yang
tak kita tahu selain persembunyiannya. Kota hangat, pada
bayangku, kubangan air hangat tanpa senjata pedih.

Pinggir jalan dan atap pelindung, hujan turun rintik lalu
deras kemudian tanpa peringatan. Orang-orang dan tubuh
kita, menyaksikan mata perempuan yang menangis di langit
itu. “Tak ada senja di hari ini,” kataku.

“Ada kau.” Kata-kata itu, jendela pelindung. Menyembunyikanku
dari tikaman sekitar dan waktu hidup.

Padjajaran yang tampak buah sayap pelukan, berlindung dari
tikaman hujan. Kita dalam sayap itu, sayap tanpa nama Reveana.
Setiap waktu dalam diriku: Aku tak berhenti mendoakanmu dari
kata yang kujadikan puisi.

Hidup tak pernah cukup. Dalam waktu lain, kita merasukinya
untuk sesuatu yang lain. Kota itu, kau yang tak lekang. Bila
sekejap adalah fana, kau abadi yang meminta pulang sekali
lagi.

Bogor, 2018-2019


 

 

 

Iklan