Ketika Alfiansyah Menyusup ke Kamar Mandi

Catatan Pengantar:

“Dari sekian banyak ruang pada rumah, kamar mandi adalah tempat kita menemui diri kita sendiri yang kita sendiri atau bahkan keluarga kita tidak temukan di luar kamar mandi,” kata Alfiansyah Ramdhani.

Dan kami setuju. Maka, sajaknya yang dia olah dari pengalaman personal dan penghayatannya akan momen berada di kamar mandi ini kami muat. Karena menarik dan otentik. Ini wilayah tema yang seakan sudah dikuasai oleh penyair lain. Tapi Alfiansyah berhasil menyusup masuk dan bermain cantik di sana. Ia mencomot berbagai kata dan memadu-padankan dengan wajar, semacam atraksi menjugel kata yang tampaknya sudah mahir.  Hasil dari usaha berlatih yang tekun.

Alfiansyah lahir di Karawang, 7 Januari 1999. Kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta, Prodi Ilmu komunikasi.

Ia penggagas Lapak Baca Vrksa (@lapakvrksa), sebuah komunitas  perpustakaan alternatif gratis juga forum diskusi di kampusnya. Ia juga aktif di komunitas sastra bersajak (@mari.bersajak). Kapan-kapan kalau sedang diskusi bicarakan juga cara membedakan “di” dan “ke” sebagai kata depan, ya? Untuk sajak ini kami maafkan, dan kami ikhlas mengoreksinya. Karena sajaknya bagus dan harus dimuat. Terima kasih. hah/LS

 


 

Di Kamar Mandi

azan meninggalkan bintang yang lamur matanya
kau mengucap salam di pintu
mencium tangan ibumu
yang menenun puji di ruang tamu
mencium tangan ayahmu
yang mengapit halaman surat annisa di jari lain
kau bergegas mengambil handuk

mengambil posisi jongkok di sebuah kloset duduk
dan memikirkan toilet ini

kecil
sehingga Kau bisa menemui dirimu
membakar sebatang rokok dengan api kecil
bercerita seperti kawan lama
tentang apa yang di balik pintu kamar mandi
selorong rak buku humor yang membuatmu tertawa
tanpa kau mengambil atau membuka sampulnya

kau mengumumpat gelap
tentang dunia dan dirimu
yang memperlakukan dan diperlakukan
seperti rubrik segi sepuluh ribu
yang harus diselesaikan

besar
Sehingga Kau menemukan dirimu
membakar sebatang rokok dengan api kecil
dengan bekas luka menetap di kepala
tak mau meninggalkan jeritan
pada lantai basah yang sama
membasahi telapak kaki ibumu
dengan darah
rambut-rambut halus
belum tumbuh seperti ilalang di tengah delta
yang menjerat lalu menelan dirimu
sehingga kau bisa menghempas tubuh yang telanjang
ke pelukan ayahmu yang datang sore
sebagaimana kau datang kedunia waktu itu

kemeja
baju
celana panjang
pakaian dalam
wajah
kulit
jengkal demi jengkal daging
hati
yang kau gantung di belakang pintu kamar mandi
membuatmu terikat dan mengambang pada cermin basah
dicuci kemudian dikenakan kembali
atau menghanyutkan semua
bersama pikiran dan setumpuk kotoran
2019

Iklan