Kecenderungan Surealisme Gansu Karangnio

Catatan Pengantar:

Menulis puisi itu seperti melukis. Chairil memakai perbandingan itu untuk menjelaskan puisi. Seni lukis relatif tak banyak diperdebatkan sebanyak orang memperdebatkan puisi. Aliran-aliran dalam seni rupa bermunculan, lantas menjadi baku atau menjadi konvensi yang masing-masing  alirn itu memberi kemungkinan pelukis untuk mengembangkan gayanya sendiri.  Dengan perbandingan itulah saya ingin membaca sajak Gansu Karangnio, penyair potensial yang lahir dengan nama Ganda Sucipta, Talang Leak, Bengkulu, 16 September 1992.  Sajaknya – setidaknya tiga sajak yang ia kirim –  mendekat ke sana, ke pengucapan yang surealistis.  Ia memilih jalan itu.  Saya penikmat imaji-imaji surealis, asalkan setiap unsur dalam bangunan surealis itu bisa dikembalikan yang realis. Menurut saya itulah nikmatnya surealisme. Imajinasi kita – dengan benda-benda yang kita kenal –  dibawa ke dunia atau kemungkinan dunia yang lebih luas, yang membuka kemungkinan masuknya makna yang lebih kaya.   Gansu saya kira sedang berada di wilayah itu dan karena itu sangat menarik menunggu perkembangan persajakannya. (h)

 


Skeptis

yang terpenggal dari kita mengkoda di lagu-lagu abad silam
satu kepala perempuan
tanpa tubuh
dan tubir untuk terjun
ke kematian dua belas jam
sehabis meneguk pahit kenangan

“beri aku satu kata saja”

selalu di kemudian hari,
melulu kita
bawa senjata yang disumput
di antara rongkong —
dalam lorong kehampaan
suara pekik

kalau enggan berucap
maka lebih baik menetap,
walau kau ada di tengah keraguan
yang menetak kelu

Bengkulu, April 2018

 


Kenangan yang Langsam

                 : Deda Icha

pelan kumasuki
tubuh jalang sendiri
hanya satu pintu tersisa
merah jambu kamar anakku

lari kecil, memeluk boneka
yang ia beri nama entah
seperti wajahnya yang subtil
belum mampu terjemah dada ibu;
ada puing lara dari kisah-kisah
air mata beku terlalu lama
dan disengajakan jadi lengan

aku memeluknya santun
sampai pulas karena tiada lantun
yang pantas untuk kuibakan

segera aku keluar habis menyelimuti
mengganti tubuhku dalam bentuk lain.
setelah kelahi dengan bayang noktah
nanti kumasuki juga mimpinya.
sebab aku pernah berkata,
kita ‘kan tamasya berdua saja
hanya berdua,
ke dunia yang kau hendaki

Bengkulu, April 2018

 


Cerita Pencerita yang Tualang

hikayat persetubuhan
telah lama tertimbun di larik belakang
sajak seorang petualang, namun sesekali
ia sendiri terpaksa lantunkan nyanyi
rintih perempuan
dari ketinggian

laki-laki itu menerjunkan pikir
lamun liar tentang perempuan
berpunggung sayap yang melayang
membawa kitab kesunyian,
serta sabda penjaga batas
berisi teka-teki puisi cinta
di kota yang lenyap

adalah lautan paling dasar
tempat perempuan itu
bermukim,
tenggelamkan petualang
yang takzim padanya
kala penziarahan panjang

Jakarta, Maret 2018


 

Iklan