Domba, Kendi, dan Lutfi dari Pati

Catatan pengantar:

KALAU saya juri yang harus memutuskan  pemenang dari tiga puisi di bawah ini (anggap saja ia ditulis oleh penyair yang berbeda), maka saya memilih puisi yang ketiga. Kenapa? Karena yang pertama dan yang kedua berisi amanat yang basi. Sudah teramat sering dituliskan dalam puisi. Tapi, kenapa tak boleh mengulang tema itu? Boleh, tapi ucapkanlah dengan cara yang segar. Jangan pakai ucapaan yang basi. Dua kali basi makin tak sedap. Bahasa Indonesia yang hebat ini memungkinkan pencarian dan penemuan cara ucap yang baru itu. Kerja keraslah. Gigihlah mencari. Lantas kenapa sajak yang ketiga itu menang? Karena bagus. Segar. Metafornya kuat dan utuh. Bahkan meluas. Maknanya apa? Kok seperti tidak jelas? Karena itu sajak itu jadi bisa dimaknai macam-macam. Pada dasarnya penyair ingin bercerita tentang hujan. Atau memakai peristiwa hujan untuk melukiskan perasaannya.  Dan peristiwa itu mengingatkannya pada sesuatu yang hilang.  Pembaca lain boleh memaknai lain.  Tak harus sama seperti niat awal penyair menuliskannya. Penyair kita yang menuliskan tiga sajak ini adalah Muhammad Lutfi. Ia lahir di Pati, 15 Oktober 1997. Ia tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

 


Sajak Serdadu Patriot Rakyat

Dia ambil semangat
Darah mengguncang jiwa
Keberanian menyala seketika
Telah habis segala derita
Kini kamu telah terbebas

Solo, 22 April 2019

 


Himbauan Anak Jalang

Kalau mau hidup berlarilah
Dan temukan jalanmu
Kalau mau kembali
Maka berjayalah dulu
Sebelum kamu menyampaikan kabar
Aku sudah kangen padamu

Solo 21 April 2019

 


Domba Awan Hitam

Domba bergerak
Warna hitam pada bulu-bulunya
Mengencingi atap rumahku
Dan baunya seperti kendi yang kubuang
Dia kini hilang
Datang lain waktu

Solo, 21 April 2019

 

 

Iklan