Dua Sajak Aditya Warman

Catatan Pengantar:

Aditya Warman (19 tahun, tinggal di Jakarta, kerja di perusahaan retail) mengirim lima puisi.  Ia tampaknya sudah terbiasa menulis dengan baik. Mungkin karena ia ikut di beberapa komunitas penulisan yang beberapa ia sebutkan dalam keterangan yang menyertai kirimanya. 

Kami pilih dua puisi berikut ini untuk ditayangkan dan sedikit dibicarakan. Keduanya sajak yang berhasil menjaga keutuhan gagasan yang ingin disampaikan. Itu antara lain karena metafora dan kiasan yang ia hadirkan tidak asal tempel. Ia mempersiapkan dengan baik struktur sajaknya, maka ketika frasa-frasa kunci hadir terasa wajar dan mengalir.

Sajak kedua harus diberi catatan lain. Ini contoh bagaimana puisi dikerjakan dengan telaten.  Sungai, batu, angin, bulan, pendayung, sekelompok kata yang berkolokasi kuat, dan dengan pengulangan-pengulangan yang efektif berperan besar membangun keutuhan sajak ini. Seandainya kelompok kolokasi lain (kamar mandi, dinding kamar) diperkuat juga dengan menambahkan beberpa kata atau frasa (misalnya: bak mandi, plafon, dll.), maka akan terasa ada peningkatan kompleksitas (dari tabrakan dua kolokasi kata) dan sajak ini akan lebih kuat.  

Selamat!


 

GADIS YANG PERGI

gadis manis berjalan di gelap malam
tak bisa ia sembunyikan kesedihan di raut wajah kusam, matanya menyimpan banyak hal yang hilang dariku

tak ada kita kali ini, hanya ada aku yang gigil diguyur kenang, kebersamaan hanyalah angin berembus di tingkap kamar mandi

ketabahan tak sekekal sepi, tangisanmu selisipan dalam mimpiku, aku terbangun dan merasakan kehampaan yang menempel pada dinding kamar

malam masih kalah dingin daripada pelukmu kala itu, peluk yang dipayungi harap secerah bulan tinggal penyesalan

Angsana, 2019

 


 

BAIT-BAIT CINTA
                                           kepada Halisa

dua matamu adalah sungai yang terbelah
tumbuh di sisinya pohon berdaun kesedihan
aku pendayung lelah, ingin segera rebah
pada matamu yang menyimpan banyak kedukaan

sungaimu cukup deras untuk mengalirkan segala lara yang takkan jadi bahagia
seberapa dalamkah sungai itu jika aku ukur dengan batu-batu harapan yang tak jadi dilemparkan
seberapa kencangkah ia menerjang bebatuan kopong selowong dadaku

pada matamu yang deras
adakah pendayung lain sedang bekerja keras?

Angsana, 2019

Iklan