Sajak-sajak yang Tidak Berutang

Pengantar:
Tulisan ini saya salin dari blog lama saya Sejuta Puisi. Ada serial tulisan yang saya beri tajuk TADARUS PUISI. Saya mengulas sajak-sajak semampu saya. Saya tak pilih penyair, tapi tentu pilih-pilih sajak yang saya bahas (Ini kata-kata M Aan Mansyur. Saya memilih sajak yang memberi banyak pelajaran. Ini salah satunya, tulisan dari tahun 2007 lalu. (h)


 

Sajak yang Tidak Berutang

Oleh Hasan Aspahani

metamorfosis bibirmu dan telingaku
Sajak M Aan Mansyur

Di bibirmu dulu mekar bunga belukar dan rumput liar,
oleh bisikanmu, daun telingaku menjelma kupu-kupu.

Kini engkau pandai mengubah diri jadi orang lain,
mencium, memagut dan berbisik dengan bibir asing,
bibir yang ditumbuhi buku psikologi, layar televisi,
dan kutipan-kutipan yang penuh kosakata ayah-ibumu.

Maka untuk bibirmu kukutuk telingaku jadi kepompong,
menunggu lagi belukar dan rumput-rumput liar itu mekar,
yang dari dadamu sendiri seluruhnya berhulu dan berakar.

 

AAN M Mansyur – salah seorang dari penyair mutakhir yang saya sukai – amat pandai menjaga keutuhan sajak-sajaknya, seraya itu menebarkan kompleksitas di sekujur sajak itu. Hal itu ia pertontonkan terutama sajak-sajak yang saya sukai. Termasuk sajak yang hendak kita bahas kali ini. Saya menyebutnya sajak yang tidak berutang. Tapi bukan berarti urusan beres setelah pembacaan selesai. Sajak di atas sekilas saya tangkap hanya menyajikan tiga tiga hal.

Pertama, imaji-imaji lewat kelomppok kata yang berkolokasi dengan bibir. Ia hadirkan bibir itu sendiri, bisikan, telinga, mencium, memagut. Lantas ia bancuh dengan kelompok kata kedua yang mempermanaikan imaji-imaji hutan liar. Ia hadirkan bunga belukar, rumput liar, kupu-kupu, kepompong, belukar, mekar, berhulu, berakar.

Dan kelompok kata ketiga yang tidak berkolokasi apa-apa, tapi ketika berhadapan-hadapan dengan dua kelompok sebelumnya maka merkea membuat sajak ini menjadi kompleks: asing, buku psikologi, layar televisi, kosa kata ayah-ibumu.

Kata-kata itu bergerak, digerakkan, menggerak-gerakkan bermacam gambar. Sajak menjadi seperti layar teater. Ibarat film, plotnya tidak linier, dan asyiknya memang di situ. Ada adegan daun telinga yang menjadi kupu-kupu setelah bibir itu membisikkan sesuatu di bait pertama. Ini bermakna apa? Saya memaknainya, bisikan itu adalah semacam janji yang membahagiakan. Kupu-kupu menjadi metafora yang pas. Lantas, di bait terakhir, bait ketiga itu, adegan itu disambung dan diselesaikan dengan kutukan terhadap telinga itu menjadi kepompong saja. Bukan kupu-kupu.

Artinya? Si aku masih berharap ada bisikan dari bibir itu yang bisa membuat telinganya menjadi kupu-kupu. Inilah isi dari plot seluruh sajak ini: Harapan itu masih ada, meskipun terasa harapan itu sebagai siksa yang pedih. Dan M AanMansyur menuntaskan tugasnya sebagai penyair dengan sangat baik. Ia mengolah apa yang disediakan bahasa. Ia memilih kata, ia mambangun imaji, dan ia dengan tertib menyerasikan perasaannya ke dalam sajaknya itu.[]

Iklan