Ada masa-masa ketika seorang penyair mencari sebelum menemukan sesuatu. Menemukan cara ucap yang khas dirinya. Pasya, mahasiswa aktif jurusan Sastra Inggris di Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Purwokerto, sedang dalam proses pencarian itu. Dia akan menemukan dirinya. Empat sajaknya menampakkan energi pencarian yang besar.

Iklan

Puisi benar-benar semacam mesin untuk menghasilkan kondisi pikiran puitis melalui kata-kata.

- Paul Vallery

BAHASA-BAHASA yang mati dimulai dengan kematian atau ketiadaan puisi. Benar, puisi tidak sendirian menghidupkan bahasa, tapi kematian bahasa dimulai dengan kematian puisi. Puisi membuka jalan ke masa depan bahasa.

– Lahir Sajak

Editor Lahir Sajak

Aku pun tahu: sepi kita semula / bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata / Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela / mengekalkan yang esok mungkin tak ada

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi - Goenawan Mohammad

KARENA puisi menuntut cara ucap yang berbeda dan baru maka puisi terlebih dahulu mampu membuat kita melihat dunia dengan cara baru dan berbeda.

Lahir Sajak

Editor Lahir Sajak

Seperti Neruda lelah menjadi manusia, malam itu / aku pergi dan memanggil taksi. // Ke mana? Ke mana saja, jawabku. // Aku pun lewat di depan rumahmu. / Namun telah lama kau pergi dari rumah itu, / rumah itu, begitu saja, seperti dulu kau lari dari mimpi-mimpiku.

Molto Allegro – Cecep Syamsul Hari

PUISI menjadi mungkin karena bahasa menyediakan banyak cara untuk mengucapkan satu hal. Tugas penyair adalah menemukan bahkan menciptakan cara itu.

– Lahir Sajak

Editor Lahir Sajak
capung-capung masih kejaran / dari ladang-ladang ke desa ke bukit-bukit ke cakrawala / kelopakmu yang basah merekah-rekah padaku / membungkam / kau bunting lagi tanahku / akukah kaukandung kali ini?
Capung Dami N Toda